Tiga tempat bersantap—sukiyaki, kaiseki Jepang, dan hidangan Tionghoa hotel—yang membuat momen duduk bersama terasa lebih menyenangkan

Saat bepergian bersama orang tua, pertimbangan dalam memilih restoran makan malam biasanya sedikit berbeda. Setelah seharian cukup banyak berjalan kaki, daripada harus pergi jauh lagi hanya demi makan, kita ingin duduk dengan nyaman dan menikmati hidangan yang lezat. Ini adalah hari ketika memilih rasa yang sama-sama disukai dan mengobrol santai menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menyantap makanan terkenal secara terburu-buru.
Pada malam seperti itu, saya tidak hanya melihat kelembutan atau ringannya rasa suatu hidangan. Saya juga memikirkan apakah dagingnya dipanggangkan langsung oleh staf, apakah ada variasi rasa yang berbeda di setiap piring, dan apakah pelayanannya terasa ramah serta menenangkan. Tiga restoran yang dapat dipilih di Isetan dan Hotel Granvia yang terhubung langsung dengan Stasiun Kyoto masing-masing menyuguhkan cara tersendiri untuk membuat momen duduk di meja makan terasa berkesan.
Moritaya JR Kyoto Isetanモリタ屋 JR京都伊勢丹店
Makan malam bersama orang tua pencinta daging, ditemani sukiyaki yang dimasak selembar demi selembar dan pemandangan Kyoto Tower.

Sukiyaki tempat Anda bisa menyerahkan proses memanggang daging sepenuhnya

Hal pertama yang saya sukai dari sukiyaki di sini bukan hanya kelembutan dagingnya. Karena staf memasakkan dagingnya selembar demi selembar tepat di depan mata, kami tidak perlu repot memperhatikan besarnya api atau memikirkan kapan harus mengangkatnya. Disajikan dengan gaya Kansai—di mana lemak sapi dilelehkan terlebih dahulu di wajan untuk memanggang daging, lalu dibumbui dengan gula dan kecap asin—kesannya terasa berbeda dari hidangan hot pot berkuah yang langsung direbus sejak awal.
Potongan dagingnya yang besar langsung meleleh lembut saat masuk ke mulut. Ditambah lagi dengan daun bawang, tahu, serta namafu (kue gluten gandum khas Kyoto) yang dimasak di wajan yang masih menyimpan cita rasa sari daging, santapan ini tidak terasa membosankan layaknya hanya menyantap daging terus-menerus. Untuk makan malam sambil duduk berhadapan dengan orang tua, alur bersantap seperti ini sangat menyenangkan karena kita bisa berfokus menikmati hidangan tanpa repot memasak sendiri.
Di antara daging berbumbu manis dan daging dengan cita rasa segar

Ada hari-hari saat kita mendambakan sukiyaki yang manis gurih, tetapi ada kalanya pula kita ingin merasakan keaslian cita rasa daging panggang yang lebih tegas. Pada hidangan oil-yaki, rasa manis dari lemak bagian sirloin dan tekstur lembut nan juicy dari tenderloin meninggalkan kesan yang berbeda. Tekstur dagingnya empuk dan ada kenikmatan tersendiri dari mencicipi bagian potongan yang berlainan.
Sausnya pun tidak monoton pada satu rasa saja. Saus berbasis kecap asin dengan paduan keripik bawang putih terasa gurih sedap, sementara saus dengan parutan lobak dan telur memberikan kesegaran sekaligus rasa gurih. Saus parutan lobak ini terasa sangat pas ketika ingin menyeimbangkan rasa yang berlemak. Namun, kelembutan dagingnya berbeda-beda tergantung potongannya. Karena bagian sirloin terasa begitu lembut seolah meleleh di mulut, daging tanpa lemak yang disantap setelahnya bisa terasa relatif lebih padat.
Makan malam yang berlanjut santai di meja dengan pemandangan Kyoto Tower
Dilihat dari dekat jendela, Kyoto Tower terasa lebih dekat dan megah dari yang dibayangkan. Pemandangan ke arah area kota hingga deretan pegunungan terbentang luas, sampai-sampai sejenak melupakan kenyataan bahwa kami sebenarnya sedang berada di dalam toserba yang menempel dengan stasiun. Momen menyantap sukiyaki sambil memandangi lanskap malam itulah yang membuat tempat ini begitu terkenang.
Jika ini adalah jamuan istimewa bersama orang tua, bukan hanya kelezatan makanannya, melainkan suasana kebersamaan saat duduk berdampingan pun akan membekas lama. Makan malam sembari menikmati panorama dari area dalam yang luas terasa menyenangkan, dan pada perayaan ulang tahun bersama orang tua, kombinasi daging serta pemandangannya pun kian melengkapi kepuasan. Bagi saya, tempat ini cocok untuk hari ketika kita ingin menikmati santapan yang lebih istimewa bersama, bukan sekadar makan daging tergesa-gesa lalu beranjak pergi. Sebaiknya tidak berasumsi bahwa semua sudut meja akan memiliki sudut pandang yang sama persis seperti di tepi jendela.
Lokasi Terhubung langsung dengan Stasiun JR Kyoto · JR Kyoto Isetan Lantai 11 Eat Paradise
901 Higashishiokojicho, Shimogyo-ku, Kyoto-shi, JR Kyoto Isetan Lantai 11 · Pencarian Peta
Kagaya Cabang Kyoto加賀屋 京都店
Makan malam bergaya Jepang untuk mencicipi jibuni khas daerah Kaga serta hidangan musiman secara berurutan di meja yang tenang.

Kenikmatan menemukan rasa berbeda di setiap piring kecil

Di Kagaya, alur pergantian piring yang menyuguhkan cita rasa berbeda terasa jauh lebih memuaskan daripada sekadar menyantap satu macam menu dalam porsi besar. Dalam sajian kaiseki yang saya nikmati bersama orang tua saat makan malam, hidangan ikan berpadu apik dengan aneka olahan sayuran seperti terung dan cabai. Keindahan olahan makanannya yang dipersiapkan dengan teliti secara alami menarik perhatian sepanjang santapan.
Bagi saya, perpaduan warna dan penyajian hidangan juga merupakan bagian dari rasa. Perpaduan antara kuliner khas daerah Kaga dan bahan-bahan Kyoto membuat santapan yang semula saya kira makanan Jepang biasa terasa sedikit berbeda. Ini adalah jamuan yang membuat kami antusias menantikan hidangan berikutnya sembari asyik mengobrol dengan orang tua. Karena susunan menunya berubah mengikuti musim, saya lebih suka memilih tempat ini dengan membayangkan alur bersantapnya daripada hanya mengincar satu jenis ikan atau sayuran tertentu.
Kelembutan rasa yang tertinggal dari semangkuk jibuni

Hidangan yang paling membekas dalam ingatan adalah jibuni, olahan daging bebek khas daerah Kaga. Kuah kentalnya membalut lembut setiap bahan, dan potongan daging bebeknya yang tebal pun terasa empuk. Sajian ini memiliki kehangatan dan tekstur yang berbeda dari sashimi maupun tempura, sehingga kehadirannya terasa begitu menonjol di sela-sela urutan bersantap.
Bahkan di hari saat ingin memilih makanan yang ringan dan lembut, semangkuk hidangan ini sama sekali tidak terasa hambar. Menikmati chawanmushi serta lauk-pauk pendamping kecil yang tersaji bersamanya secara perlahan sangat cocok dengan selera saya. Namun, pernah ada pengalaman ketika jibuni disajikan kurang hangat sehingga terasa sedikit disayangkan, jadi saya tidak ingin menyimpulkan bahwa suhunya akan selalu identik setiap saat.
Percakapan hangat dan pemandangan luar jendela yang sepadan dengan kelezatan makanannya
Hal lain yang sangat menyenangkan saat makan malam bersama orang tua adalah suasananya yang mendukung untuk berbincang dengan tenang. Dari jendela terlihat Kyoto Tower, dan selama menikmati kaiseki, obrolan pun mengalir begitu alami. Rasa lapang dari jendela-jendela besar membuat waktu yang dihabiskan di meja makan terasa sangat menyenangkan.
Saat mencari tempat untuk makan dengan tenang, pemandangan dan pelayanan seperti inilah yang patut diperhitungkan. Pengalaman bersantap santai di ruangan privat untuk merayakan ulang tahun keenam puluh (hwangap) juga selalu mengingatkan saya pada tempat ini. Cukup ingat bahwa restorannya berada di Isetan lantai 8, bukan di area sentra kuliner lantai 11, sehingga menentukan tujuan saat berjalan bersama orang tua di dalam stasiun pun menjadi jauh lebih mudah.
Lokasi Dekat Stasiun JR Kyoto · JR Kyoto Isetan Lantai 8
901 Higashishiokojicho, Shimogyo-ku, Kyoto-shi, JR Kyoto Isetan Lantai 8 · Pencarian Peta
Roppongi Rogairo Hotel Granvia Kyoto中国料理 六本木 樓外樓(ホテルグランヴィア京都)
Hidangan Tionghoa hotel untuk menikmati alur set menu bersama orang tua, diawali dengan hidangan pembuka boga bahari dan sup hangat.

Sup hangat yang menyusul setelah hidangan pembuka boga bahari

Awal dari set menu hidangan Tionghoa ini terasa mewah tetapi tidak berlebihan beratnya. Hidangan pembuka yang menyajikan cumi-cumi, udang, dan aneka kerang tampil begitu rapi dan sedap dipandang, dengan variasi tekstur boga bahari yang membuat suapan pertama langsung menyenangkan. Kehangatan sup shangtang yang disajikan berikutnya menyambung alur santap dengan sangat lembut.
Pada hidangan kepiting, aroma dan rasa kepitingnya terasa begitu kuat, sementara tumisan sayuran, rebung, dan kerang simping (scallop) menghadirkan tekstur renyah yang nikmat. Dalam satu set menu masakan Tionghoa yang sama, perbedaan suhu hangat dan sensasi gigitannya membuat pengalaman bersantap jauh dari kata membosankan. Bila orang tua sedang ingin menikmati masakan Tionghoa, makan malam dengan dinamika variasi piring seperti inilah yang terlintas di benak saya ketimbang sajian yang didominasi satu saus pekat.
Dari udang yang kenyal hingga hidangan penutup yang menyegarkan

Udang saus cabainya memiliki tekstur udang kenyal yang terasa pas di sela-sela cincangan daun bawang. Nasi goreng yang keluar di akhir set menu disajikan dengan siraman saus di atasnya, meski menurut selera pribadi, saya lebih menyukai nasi goreng berbutir lepas tanpa saus. Sebagai penutup, tahu almond (annin tofu) menyegarkan kembali rongga mulut dengan sempurna.
Pada makan malam lain, hidangan penutup santan dan tapioka juga meninggalkan kesan tersendiri. Masakan Tionghoa di sini cenderung diracik secara lembut dan terperinci, sehingga lebih nikmat dinikmati saat kita memperhatikan bentuk, suhu, dan teksturnya ketimbang sekadar mengharapkan bumbu yang tajam menyengat. Tergantung pada set menu yang dipilih, porsinya bisa terasa sangat mengenyangkan hingga terkadang agak berat untuk menghabiskan sajian mi di akhir santapan.
Pelayanan penuh perhatian yang sangat disyukuri saat bersantap bersama ibu
Pelayanan staf yang sangat teliti saat kami mempertimbangkan pilihan set menu bersama ibu terasa sangat menyenangkan. Bahkan pada kunjungan di mana kami memesan tempat terlebih dahulu lalu memilih set menu di lokasi, keramahtamahan stafnya tetap membekas dalam ingatan. Sikap yang membuat waktu makan bersama terasa nyaman ini terasa sama berharganya dengan kelezatan makanannya.
Dari balik jendela terlihat pemandangan sisi selatan Stasiun Kyoto dan pagoda lima tingkat Kuil To-ji. Pada Minggu malam di musim liburan suasananya memang cukup ramai dan padat pengunjung, namun berkat keramahan stafnya, kami tetap bisa bersantap dengan suasana hati yang baik. Bagi saya, tempat ini mungkin bukan pilihan untuk suasana yang selalu hening, melainkan sangat pas untuk hari ketika ingin menikmati hidangan Tionghoa hotel bersama orang tua ditemani pemandangan indah dan pelayanan yang prima.
Lokasi Terhubung langsung dengan Stasiun JR Kyoto · Hotel Granvia Kyoto Lantai 15
Karasuma-dori Shiokoji-sagaru, Shimogyo-ku, Kyoto-shi, Stasiun JR Kyoto Pintu Keluar Pusat, Hotel Granvia Kyoto Lantai 15 · Pencarian Peta
Jika ingin melewati makan malam yang sedikit lebih istimewa bersama orang tua pencinta daging, sukiyaki dan oil-yaki Moritaya adalah yang pertama terlintas di benak. Saat mendambakan suasana tenang dengan variasi sajian piring-piring kecil, Kagaya adalah pilihan tepat; dan ketika ingin menikmati set menu masakan Tionghoa yang mengalir dari hidangan pembuka boga bahari hingga sup hangat, Rogairo terasa sangat pas.
Memilih jamuan makan untuk orang tua tidak harus terpaku pada satu selera saja. Kita bisa mulai dengan memilih bersama: makanan apa yang sedang diinginkan hari ini, atau seberapa mengenyangkan santapan yang diharapkan. Dibandingkan makan malam dengan porsi berlimpah, saya lebih memilih makan malam di mana kelezatan hidangan dan kehangatan percakapan dapat terus terkenang bersama.